Prank Berujung Bui

Ferdian Paleka dan Temannya ketika memulai aksi Prank sampah terhadap Transpuan di Bandung-Jawa Barat 4 Mei 2020

  Edukasi membuat orang sadar, Hukum membuat orang Jera…

Fenomena prank (gurauan) sedang melanda masyarakat maya Indonesia terutama ana-anak muda. Aksi mereka akhirnya berujung bui. Lantas apa motivasi dibalik aksi prank yang dilakukan oleh anak-anak muda ini? Alasan mereka membuat masyarakat waras menebah dada mendengar alasan konyol tersebut. Ada yang ingin menaikan ratting, tuntunan prestise atau ingin viral dengan menaikan subscriber dan ada juga alasan miris yang mengiris hati. (Kompas.com.2020)

Anak-anak muda seolah kehilangan daya kritis, bersenda gurau dan tertawa puas ketika merasa berhasil melakukan prank terhadap sesamanya. Atau bahagia ketika menyaksikan korban pranknya bingung atau kelabakan menanggapi aksi prank tersebut. (Kompas.2020).

Fakta

Bagaimana mungkin anak-anak muda masih bisa bergurau ditengah Pandemi Covid-19 yang tengah “membuat gelisah” dunia dan yang menggerogot serta mengisolir “kebebasan’ insan manusia di bawah kolong bumi ini?.

Anak muda seolah gagap membuat konten demi kesenangan semu yang membuat kalap para korban hingga berujung bui.

Aksi prank yang dilakukan sejumlah anak muda yang kurang terpuji tersebut akhirnya menuai protes dan cibiran netizen hingga pada akhirnya harus berurusan dengan hukum. Kasus prank yang dilakukan anak-anak muda Bone-Sulawesi Selatan yang melakukan aksi prank terhadap para medis dengan berpura-pura sebagai salah satu korban corona virus, hingga membuat para medis “panik” dan menangani sesuai protap penanganan pasien corona virus (Kompas.com 4 Mei 2020).  

Kasus Ferdian Paleka dan teman-teman yang melakukan prank terhadap kaum transpuan pada 4 mei 2020 lalu, dengan membagikan bingkisan sampah dan batu bata akhirnya berujung bui. Kaum transpuan kota Bandung merasa dihina dengan pembagian bingkisan tersebut akhirnya melayangkan keluhan mereka ke pihak yang berwajib dan ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku.

Sudahkah Membaca UU ITE..?

Indonesia adalah negara huKUM itulah semboyan yang seringkali digemakan oleh kita. Namun sudahkah membaca UU? Seberapa dalam memaknainya? Jika telah memaknai mengapa masih ada saja pribadi-pribadi tertentu yang masih gagap dan akhirnya berurusan dengan hukum? UU telah mengatur sikap manusia dalam realitas hidup setiap hari. Namun akhir-akhir ini manusia tak lagi dijumpai didunia nyata hal ini ditegaskan kembali dengan pandemic covid-19. Manusia memasuki bumi dan dunia baru yakni dunia virtual, maya, daring. Adakah UU didunia maya?

Masyarakat virtual hendaknya tahu dan mengerti ketika berselancar didunia maya. Bahwa dalam dunia maya pun terdapat hukum atau UU yang mengaturnya. Jika belum pernah membaca atau ingin tahu lebih dalam, anda dapat membacanya di UU ITE… disana banyak ulasan mengenai aturan berselancar didunia maya yang membuat anda tak berurusan dengan hukum.

Dalam kasus prank sampah youtuber Ferdian Paleka dan teman-temannya terhadap kaum transpuan, ia dijerat dengan UU ITE pasal 45 ayat 3, yang berbunyi: “

“Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). ( IJCR. 2016).

Pasal 36:

“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 34 yang mengakibatkan kerugian bagi Orang lain”.   

Pasal 51:

Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah). (KPK.co. 2008).

Kasus prank Ferdian akhirnya dijerat dengan UU ITE pasal 45 ayat 3 mengenai “penghinaan” terhadap kaum transpuan, dan juga dijerat dengan UU ITE pasal 36 dan 51 karena melawan hukum dengan mecoba melarikan diri hingga masuk dalam daftra buronan atau ODP hingga ditangkap ketika hendak melarikan diri ( Kompas.com 2020).

Mungkinkah Ferdian tak pernah membayangkan ataupun sedikit pun bahkan tak terlintas dibenaknya bahwa aksi prank-nya terhadap kaum transpuan akan dijerat dengan UU ITE dan berujung mendekam di bui. Mungkin juga Ferdian belum masih gagal paham mengenai UU ITE dan mengenai kebebasan kaum waria dalam mengekspresikan diri mereka layaknya manusia yang diatur dalam UU pasal 28 tentang Hak Asasi Manusia.

Pernahkah terbayang dalam benak kaum muda yang ingin menunjukan eksistensi diri dan akhirnya  membuat konten yang kurang edukatif sehingga membuat sesamanya tersinggung atau terkesan merendahkan sesamanya sebagai manusia yang memiliki hak untuk hidup dan berekspresi.

Dari Transpuan For Kaum Muda

Rully Malay salah satu transpuan yang pernah menjabat sebagai anggota legislative di Bone Sulawesi Selatan mengatakan: “orang yang berpikir skeptic tidaklah berguna untukuntuk orang di sekitarnya yang sedang mengalami kesusahan”.  Walau kecewa, terpukul dan prihatin. Ia tidak pernah membayangkan bahwa masih ada anak muda yang bergurau di tengah pandemic covid 19 ini.  Namun masih memiliki harapan bahwa masih banyak anak muda yang lebih kreatif, inovatif dan mampu mengharagi sesamanya serta dapat membuat konten-konten yang edukatif dan ia mengharapkan agar sebagai manusia hendaklah berbuat baik tanpa melihat perbedaan.

Daftar Pustaka 

Auliya Farfett. (2020). Full Video Prank Sembako Sampah, Youtuber Ferdian Paleka. Diakses pada tanggal 18 Mei 2020: https://www.youtube.com/watch?v=trp1XiMMZe0

KPK. (2008). Diakses pada tanggal 18 Mei 2020 dari;  file:///C:/Users/ACER/Downloads/UU_ITE%20no%2011%20Th%202008.pdf

Kompas. (2020). Berpura-pura Jadi Pasien Corona dan Bikin Tenaga Medis Panik, Remaja Ini Berteriak “Saya Prank Kamu!” Diakses pada tanggal 18 Mei 2020 dari: https://regional.kompas.com/read/2020/05/14/12174061/berpura-pura-jadi-pasiencorona-dan-bikin-tenaga-medis-panik-remaja-ini

Kompas. (2020). Prank Sembako Isi Sampah YouTuber Ferdian Paleka Disorot Media Inggris. Diakses pada tanggal 18 Mei 2020 dari;  https://www.kompas.com/hype/read/2020/05/14/112509266/prank-sembako-isisampah-youtuber-ferdian-paleka-disorot-media-inggris

                                                  

Perjalanan Kami Kembali menuju Adam

Perjalanan Malam itu mencari “oase” melewati Jl. Solo-Yogyakarta

“ Berjalan dari hati ke hati, menjejaki perasaan satu dengan yang lain, bukan sekedar mencari “hiburan” namun bagaimana menjadikannya sebagai “traveling rasa” yang membuat seorang manusia merasa hidup dan berarti”.

Pagi itu 6 September 2019, ponsel saya berbunyi. Saya membuka pesan yang masuk di Whatsapp. Terdapat beberapa panggilan. Dan bunyi pesan dari kontak yang sama:

Pg suster, maaf ada tmnku waria katolik, namanya mbak indri asli Wonosari, mau ketemu: utk konsul. tolong dikhabari nggih kalau ada waktu…

Saya segera membalas chatt dari Mbak tersebut. Baru saja saya meletakan HP tiba-tiba saya dipanggil, bahwa ada yang mencari didepan biara. Saya lalu meletakan HP dan berlari menuju depan biara, sebelum membuka pintu, saya mengintipnya melalui tirai jendela. Ia sendirian dan pandangannya amat jauh.

Segera saya membuka pintu dan menyapanya, ia tersenyum namun lesu.

Ternyata ia sudah didepan Biara cukup lama. Wajahnya pucat dan luka di pelipis mata kanannya seperti kecelakaan. Ia berdiri dan menyalamiku namun ia terduduk lagi. Saya mengajaknya masuk ke biara. Jalannya seok harus dituntun ketika menaiki anak tangga biara.

Di ruang tamu, ia masih tetap diam, dan terus menatapku, hendak ingin mengatakan sesuatu, namun bibirnya masih kaku dan gemetar. Aku tersenyum memandang matanya, dan mencoba memecah kesunyian. Namanya siapa ya? Ia menjawab, panggil saya Agus saja. Oh ya.. Pak Agus mau minum apa? apakah sudah sarapan? Ia menjawab: Kalau boleh saya ingin minum Teh panas. Saya bergegas membuatkan teh untuknya.

Sambil mempersilahkan dia untuk minum, saya menyampaikan kepada Pemimpin Komunitas bahwa ada tamu, dan juga menyampaikan kepada salah satu Suster senior untuk menemaninya.

Ia tampak lelah, seperti menahan rasa sakit. Ia terus menunduk, dan sesekali terdengar suara sesenggukan, air matanya terus mengalir, dan kami hanya diam dalam keheningan pagi itu.

Teh didalam cangkir masih mengepul, saya menawarkan lagi dalam bahasa Jawa: “Monggo diunjuk”. Ia menatapku dengan mata merah dan menjawab “nggih suster”. Saya pun pamit untuk kuliah dan ia ditemani oleh salah satu suster senior.

Setelah kembali dari kampus, saya diajak berjalan-jalan di kebun belakang oleh Sr. Senior sambil sharing tentang Pak Agus, tamu pagi tadi.

Ketika sore hari, ia kembali lagi, ia berkisah tentang siapa dia. Sesekali nada penyesalan itu muncul, dan membuat bibirnya gemetar. Namun aku mencoba tersenyum membesarkan hatinya untuk terus berkisah tanpa merasa canggung. Beberapa hari ia terus ke biara dan ingin terus didengarkan.

Hingga satu minggu kemudian Ia pun mengatakan bahwa ia rindu untuk “kembali”. Ia ingin kembali ke dirinya yang sejati. Ia ingin meninggalkan Mbak Indri dan kembali pada Agus. Ia terus mengusap air matanya, sambil menunduk.

Komitmen diakhir Hidupnya

Suatu sore ia menyampaikan keinginannya, ingin kembali ke katolik dan meninggalkan dunia waria. Mendengar permintaannya, saya menawarkan untuk memulai dengan pengakuan dosa, komuni dan perminyakan orang sakit. Ia menyambut tawaran itu dengan sukacita.

Komitmen Itu…

Pagi itu, setelah misa. Saya meminta tolong dua orang Suster. Satu untuk menjemput Romo satunya untuk menjemput Pak Agus. Saya menanti sambil menyiapkan perlengkapan pengakuan tobat dan perminyakan. Ia pun tiba. Saya menuntunnya lagi naik tangga dan masuk ke Kapel Biara untuk mempersiapkan diri sebelum mengaku dosa. Didepan sakramen, kami duduk khusuk dan saya memulai dengan memimpin doa.

Dalam hening ia masuk ke bilik pengakuan dosa, dan ia keluar dengan tersenyum melihat saya. Ia lalu bercerita bahwa ia senang, namun saya mengingatkan untuk mengingat “penitensi” yang diberikan Romo padanya sebagai silih atas dosa-dosanya. Ia tersenyum malu dan dengan nada canda ia mengatakan: Maaf lupa, saya sungguh senang, sehingga lupa.

Setelah doa silih ia pun mempersiapkan diri untuk Komuni dan Pengurapan orang sakit.

ia tampak berpasrah total, dengan membuka telapak tanganya dan siap untuk diurapi.

Setelah menerima pengurapan, ia melonjak kegirangan, wajahnya penuh senyum dan tawa. Ia keluar dari kapel dan menuruni tangga tanpa dituntun lagi, ia berjalan dengan cepat dan menari-nari sambil bergurau sehingga para suster terpana dengan dirinya. Ia pun berkisah bahwa ia bisa untuk pijit refleksi dan sebagainya. Romo dan para suster menyambutnya dengan canda tawa dan terharus karena ia penuh dengan sukacita.  

Di hari-hari hidupnya ia terus mencari oase… bak orang dahaga ia terus mencari oase hidup itu namun…

(nantikan kisah selanjutnya di artikel yang akan datang…)

Kebijakan Jokowidodo Memanggil Para Menteri Kabinet Kerja II Indonesia. Probowo dipanggil, Bentuk Sebuah Pengampunan?

Para Menteri Kabinet Kerja II ketika dipanggil oleh Presiden Jokowidodo

“Hadirnya Probowo Subianto dalam deretan nama para Menteri Kabinet Kerja II Presiden Jokowidodo, cukup menyita perhatian publik. Ia pun melangkah penuh pasti dengan mengenakan kemeja putih. Kebijakan Jokowi; bentuk sebuah pengampunan?”

Mata Masyarakat Indonesia tertuju pada istana merdeka Indonesia. Indonesia seolah mengalami transformasi diri dengan hadirnya putra-putri indonesia yang datang mengenakan kemeja putih. Presiden Indonesia menunjuk dan memanggil para calon menteri yang datang secara bergantian menjumpai Jokowidodo sehari sesudah pelantikannya sebagai Presiden RI.

Para calon menteri keluar dengan wajah “sumringah” setelah berjumpa secara pribadi dengan Presiden Indonesia. Jokowidodo menghadirkan wajah baru dalam kabinet kerjanya walau ada beberapa yang masih bertahan seperti Menteri Keuangan ibu Sri Mulyani.

Salah satu menteri yang dipilih adalah Prabowo Subianto yang adalah kompetitornya ketika memulai dengan kampanye merebut kursi No I RI. Kebijakan Jokowidodo memilih Prabowo cukup “menggelitik” hati para pendukung Prabowo yang masih belum “move on” dengan situasi politik kampanye beberapa bulan lalu. Hal ini tampak dari komentar-komentar netizen di laman media sosial.

Ketika dipanggil berjumpa secara pribadi dengan Jokowidodo, ia diberi keistimewaan untuk menyampaikan posisinya di Kabinet Kerja II Indonesia sehingga sendiri memperkenalkan dirinya kepada awak media mengenai posisinya dalam kabinet tersebut.

Kebijakan Jokowidodo dalam memilih Prabowo sebagai salah satu menteri dalam kabinet kerjanya dari partai Gerindra dinilai menerapkan politik akomodatif, kata Iqbal putra kedua dari Susilo Bambang Yudhono.

Terlepas dari masa lalu sebagai kompetitor politik Jokowidodo, penulis melihat kebijakan memilih Prabowo sebagai menteri sebagai salah satu cara sikap menyatukan dan mendamaikan indonesia yang mengalami fragmentasi politik dan strategi-strategi politik dari oknum-oknum yang kurang bertanggung jawab dan dewasa, yang telah melukai sebagian bangsa indonesia yang masih shock dan belum menerima situasi politik Indonesia hingga saat ini.

Kebijakan Jokowidodo memilih Probowo menjadi salah satu menteri membuktikan kepada kita bahwa kita hidup sebagai satu saudara dan saudari, yang bahu membahu dalam membangun persatuan dan kedamaian di negeri Indonesia. Mari bersatu hati menuju Indonesia yang damai.

Masih ada Sepotong Kasih Dari mereka yang Pernah “Dinikmati tanpa Dimiliki”

Mami Vinolia Pendiri LSM Kebaya bersama salah satu pasien

“ Selokan Mataram menjadi saksi bisu ketika aku dicampakan melalui aliran banjir setelah berdua dengannya”  Kisah ini membuatku sadar: Kasih seperti apa yang aku perjuangkan didunia ini?

Eksistensi kaum waria di tengah masyarakat bukanlah sesuatu yang baru. Dalam kehiduppan masyarakat dikonstruksi sedemikian, mengenai hadirnya jenis kelamin ketiga yakni waria. Dari perspektif agama dalam kitab Kejadian dikatakan bahwa: Manusia diciptakan laki-laki dan perempuan yang diberi nama Adam dan Hawa. Jadi manusia hanya diciptakan dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. (Kitab Kejadian 2:23).

Namun secara factual, dalam kehiduppan bermasyarakat, manusia berjumpa dengan manusia lainnya yang memiliki jenis kelamin berbeda. Tingkah laku, tutur kata dan pembawaannya menyerupai perempuan namun hakekatnya ia adalah laki-laki. Jenis manusia seperti ini dikenal atau disapa dengan sebutan waria. Waria: singkatan dari Wanita Pria atau dikenal dengan istilah transgender.

Profesi waria sebagai Pekerja Seks, Pengamen, dan pemulung, telah mengkonstruksi mindset masyarakat bahwa waria identik dengan suatu yang negative yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Stigma ini telah melekat erat dalam masyarakat dan sulit untuk diubah. (//NN. Waria Seruni.)

Berangkat dari stigma dari masyarakat terhadap kaum waria, “kaum waria mencoba bangkit ingin menunjukan eksistensi diri sebagai manusia yang ingin juga dihargai dan dihormati laiknya manusia dengan membuat gerakan-gerakan sosial yang sederhana, salah satunya adalah adanya LSM Rumah Singgah Kebaya-Yogyakarta.

Kehiduppan waria Yogyakarta secara khusus Seruni dan Kebaya terkadang dihantui kecemasan-kecemasan terkait eksistensi diri mereka sebagai Waria yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Berpenampilan menarik dengan dandanan ‘menor” dan lenggak-lenggok tubuh yang dibuat semenarik mungkin ketika dijumpai mengamen  dijalanan atau persimpangan (Proliman)  merupakan ciri khas dari waria. Eksistensi diri mereka sebagai waria mendapat penilaian yang pro dan kontra dalam masyarakat. Sebagaimana mereka ingin menunjukan esksistensi diri sebagai waria dengan bekerja sebagai PSK, Pengamen dan Pemulung dengan berdandan semampunya namun terkadang menimbulkan konflik internal maupun eksternal.

Konflik-konflik yang dihadapi yang datang silih berganti; dicibir, mengalami diskriminasi, bahkan fisik dan kehiduppannya di dunia malam sebagai penghibur dan tampak “centil” ketika berjumpa dengan siapa saja membuat masyarakat terkadang “risih” dan melihat mereka hanya sebagai penghibur malam. “Saya pernah diludahi ketika mengamen, dan uangnya dibuang dimuka saya. Lalu dikejar (diusir) laki-laki setelah “melayaninya” (// Nn. Waria)

Sikap sebagian masyarakat yang memandang sebelah mata membuat waria merasa bahwa mereka adalah kaum yang hanya “dinikmati tanpa dimiliki”. Tak jarang mereka didiskriminasi baik dari cara memandang hingga fisik. Waria seolah tidak ada tempat bagi mereka untuk hidup sebagai manusia merdeka. Mengembalikan eksistensi mereka sebagai waria yang adalah sesama manusia. “ Saya penah dibuang di Selokan Mataram dan terbawa banjir setelah dipakai oleh dua orang laki-laki gara-gara saya minta bayaran. Akhirnya saya ditolong oleh warga” (// NN. Waria Kebaya).

Berbagi cinta merupakan salah satu kerinduan waria kebaya “ingin berguna bagi sesama”, dengan memulai suatu yang sederhana yakni; merawat ODHA Waria merupakan awal memberi diri bagi sesama yang membutuhkan. LSM ini akhirnya berkembang; ODHA bukan hanya dari kaum waria namun dari awam biasa walau terkadang ditolak, namun mereka mendekati secara bertahap. Memberi perhatian yang khusus hingga pasien merasa nyaman. Bentuk pengobatan disini bukan untuk mengobati namun untuk menyehatkan, setidaknya mereka bisa surviva dan merasakan bahwa mereka dicintai diakhir hidup mereka. (// NN.Waria).

Kisah mereka mengenai kaum yang hanya “dinikmati tanpa dimiliki” merupakan kisah pilu dari hati seorang waria yang merindukan cinta yang sesungguhnya, laiknya manusia normal lainnya. Mereka pun tak ingin mengkhianati fakta bahwa penolakan terhadap mereka tak akan terputus jika mereka tak memulai dari diri mereka untuk manusia walau mereka tahu bahwa cinta yang mereka bagikan hampir habis terkuras dijalanan. Sepotong kasih itu mereka wujudkan dengan membuka bangsal untuk merawat ODHA. Biarkan mereka juga mengalami kasih yang tulus itu. Mari membagi kasih untuk mereka tanpa memandang perbedaan.  

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus you own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.

Design a site like this with WordPress.com
Get started